Minggu, 11 Juli 2010

Apa kabar G?

Apa Kabar G?
Sudah lama aku mencarimu.
Selepas malam menanggalkan jubahnya, kini akhirnya aku bisa melihatmu berdiri di balik cahaya yang tergerai lembut.
Tak bisa kubayangkan, akhirnya aku bisa bernaung di bawah senyumanmu.

Kau seindah tetesan embun pagi yang berkilau.
Dengan menelannya, sepertinya aku tak akan pernah kehausan selama 100 tahun.

Kau sudah lama berlayar dalam hatiku.
Hanya saja layarmu tak terkembang tertiup angin.
Hingga kau seolah hilang, hingga kau seolah tiada.
Tapi kau ada, sungguh ada.
Bodohnya aku melupakanmu, bodohnya aku melewatkan keindahanmu.

Apa Kabar G?
Sungguh bahagia hatiku menemukanmu.
Kau adalah sebait kata dalam selembar puisi, yang menjadikan puisi itu lebih indah dari 1000 lembar puisi lainnya.
Kau adalah degupan jantung yang bergaung lagu.
Kau adalah tiupan angin yang menyentuh hatiku, membawanya menelusuri lembah-lembah yang berselendangkan sungai yang meliuk anggun.

Aku mencintaimu…
Aku adalah jendela yang terbuka yang menunggumu hinggap dan bernyanyi di bingkainya

Aku mencintaimu…
Aku adalah titian tangga yang merindukan pijakan kakimu pada setiap langkahnya.

Aku mencintaimu…
Aku adalah keremangan fajar yang menunggu kau hangatkan dengan cahayamu

Aku mencintaimu…

Apa Kabar G?
Sudah lama aku mencarimu.
Maaf aku tergesa mengungkapkan semuanya.
Hatiku terlalu lugu untuk menyimpan rahasia ini darimu.
Kehidupan ini terlalu singkat untuk aku tunda sampai esok hari.
Aku hanya takut kehilangan dirimu satu kali lagi.

Ada sebentuk cinta dalam pigura yang menempel di dinding hati ini
ketika aku pertama kali melihatmu.
Setelah suara langkah-langkah kakiku menulikan telingaku dan melupakanmu, akhirnya takdir mempertemukan kita lagi.

Kau lebih indah dari sebelumnya.
Dalam sebuah kendaraan yang membawa kita dalam sebuah perjalanan, kau berhasil mengingatkanku, bahwa aku mencintaimu,
bahwa tatapanmu mampu menundukan terik matahari dalam hatiku.
Hingga kehidupan bergulir dan menjatuhkanmu jauh dariku… lagi.
Engkau menghilang dalam rintik hujan yang mengalun sedih.
Dan aku adalah kilat yang tersesat dalam langit malam yang mendung.

Apa Kabar G?
Sungguh bahagia hatiku menemukanmu.
Di sisa-sisa genangan air hujan aku melihat bayanganmu.
Aku mencarimu.
Hingga pada suatu siang di bawah bayang-bayang awan dan semilir angin yang merdu, aku menemukanmu berdiri di hadapanku.
Dengan bermahkota pelangi dan bergaun awan putih kau menatap mataku.

Disini, di rimbun-rimbun keheningan tatapanku, aku ingin mengatakan: “Aku mencintaimu”.

Apa Kabar G?
Semoga kau baik-baik saja.

26 September 2004

Kamis, 08 Juli 2010

Lelaki Sederhana

Aku adalah lelaki sederhana yang tak banyak mengerti cinta

jika tetesan embun pagi yang jatuh ke atas kolam
membuatmu tersenyum
maka akan ku berikan padamu sebagai cinta

jika goyangan rumput yang tertiup angin
membuatmu bersenandung
maka akan kuberikan padamu sebagai cinta

jika ketiadaan diriku membuatmu bahagia
maka aku akan pergi darimu sebagai cinta…

30 Maret 2005

Jumat, 04 Juni 2010

Seperti Dirimu

Dari dalam kerinduan menyeruak aroma cinta yang menyengat hati
benang-benang cahaya yang terjalin indah turut terhambur dari dalamnya
membentuk formasi dinding-dinding warna yang melindungi dengan kelembutan

Sesuatu secantik dirimu terbang bersama kawanan kupu-kupu bersayap pelangi
beberapa menari-nari bersama benang-benang cahaya dan beberapa lainnya
hinggap di kelopak kerinduan dan menghisap madu cinta berwarna emas lembayung

Ketika semua bergerak dalam ritme kesyahduan
sesuatu seperti dirimu itu bernyanyi...
mengucapkan syair-syair puisi yang membuat awan-awan putih di langit merendah
menyauhkan lembut gerimis di ranting-ranting pohon
dan menebarkan permadani pelangi di tepian sungai dan teras-teras taman

Sesuatu seperti dirimu itu mengulum hatiku
mengunyah detak-detak kehidupanku dan memuntahkannya di mimpi-mimpi malam

Sesuatu seperti dirimu itu membunuhku...

8 Agustus 2009

Selasa, 25 Mei 2010

Tertinggal Jauh

Aku terdiam dikitari titik-titik lamunan yang membentuk gugusan-gugusan misteri
Mengibaskan tanganku di udara berharap menemukan ruang di balik remang-remang kekosongan ini
Tapi tak ada yang berubah selama beberapa tahun ini
Masih langit yang sama ketika aku menemukan pelangi terbang berkibar tertiup angin kesedihan
Masih tanah yang sama ketika aku menemukan tubuh gerimis terkulai di tepian senja yang berkarat

Aku lelah untuk bangkit dari kelelahan
Menghisap asa dari cerutu kehidupan yang mulai setipis kapas
Aku hanya ingin terdiam dalam keagungan keputusasaan yang ternyata semanis kembang gula
Tapi kebisingan itu menggangguku
kebisingan tentang harapan yang masih ada
nyanyian tentang cinta yang sehangat secangkir kopi di pagi hari
atau tentang bidadari yang selalu datang untuk sebuah kecupan menjelang tidur

Aku ingin percaya..
Tapi aku sudah tertinggal jauh sebelum menyadari ini semua

23 April 2009